Blog

Semua Perempuan Bisa Menjadi Pemimpin

every woman single page

Pemimpin merupakan sosok yang penting di dalam perusahaan. Melalui pemimpin, maka nilai-nilai perusahaan dapat disampaikan kepada bawahan. Pemimpin juga merupakan kunci berkembangnya sebuah perusahaan, karena melalui merekalah seluruh anak buah mampu diajak bekerja sama untuk kemudian mewujudkan target-target dari perusahaan.

Selama kurang lebih 30 tahun Medco mengembangkan bisnisnya, perusahaan ini telah melahirkan banyak pemimpin yang bukan hanya mampu membawa perusahaan ke level yang lebih tinggi, tetapi juga mampu memberikan keteladanan. Para pemimpin tersebut memiliki karakter kepemimpinan masing-masing, yang tentunya berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Yani Panigoro merupakan salah satu direksi yang karakter kepemimpinannya cukup mencuri perhatian. Yani Panigoro merupakan sosok yang istimewa karena ia merupakan satu dari sedikit perempuan yang mampu menduduki posisi strategis di jajaran direksi Medco. Pencapaian karirnya di usianya yang telah menginjak kepala enam tersebut membuatnya mendapat tempat khusus di hati para anak buahnya, terutama karyawan perempuan. Melalui dirinya, setiap orang di Medco mampu melihat bahwa perempuan sanggup menjadi pemimpin.

Tahun 2012 lalu, Kepala Hak Asasi Manusia PBB Navi Pillay menyerukan agar perempuan dapat mengambil porsi yang lebih besar dalam kepemimpinan global. Ajakan tersebut berawal dari data yang menunjukkan bahwa di seluruh dunia, perempuan hanya menduduki 19.3 persen kursi di parlemen. Selain itu tercatat hanya 12 dari perusahaan Fortune 500 yang memiliki perempuan di posisi atas. Wacana mengenai minimnya partisipasi perempuan dalam ranah publik sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi Yani Panigoro. “Di zaman saya di tahun 75, jumlah mahasiswa perempuan hanya 10 persen,” ujarnya menggambarkan kondisi yang ia alami semasa duduk di bangku perkuliahan. Ia pun mengakui bahwa di era tersebut, sebagian besar suami jauh lebih menyukai jika istri mereka menjadi ibu rumah tangga dibanding bekerja di luar rumah.

Tumbuh dalam iklim di mana tingkat penerimaan perempuan di dunia kerja masih tergolong rendah ternyata tak pernah menjadi halangan bagi perempuan kelahiran Bandung ini untuk mengembangkan potensinya. Setelah lulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), ia bekerja sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kemudian di tahun 1989, dengan kemampuan di bidang informasi teknologi yang dimilikinya, Yani Panigoro memberikan kursus komputer khusus untuk perempuan. Tahun 1994, Yani Panigoro mulai terlibat di Medco dan di sinilah kemampuan kepemimpinannya kembali ditantang.

Dalam perjalanan karirya mulai dari menjadi peneliti di LIPI, mendirikan lembaga kursus komputer hingga akhirnya terlibat di perusahaan yang didirikan kakaknya, Arifin Panigoro, Yani membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensinya sama halnya dengan laki-laki. “Tidak peduli apakah kita laki-laki atau perempuan, di dalam dunia kerja yang membuktikan adalah track record-nya,” jelas Yani. Untuk itu, dua hal yang ia selalu tekankan kepada anak buahnya ialah sikap percaya diri dan juga semangat daya juang yang tangguh. Dua karkater ini yang menjadi kunci sehingga Yani Panigoro mampu terjun dalam dunia kerja dan dapat bersaing dengan para rekan-rekannya yang sebagian besar merupakan laki-laki.

Yani juga menambahkan bahwa perempuan pada dasarnya telah dianugerahi beberapa kelebihan yang memang menjadi skill dasar kepemimpinan, seperti misalnya kemampuan multitasking atau mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Ia mencontohkan bagaimana seorang perempuan ketika menjalankan perannya sebagai ibu, mereka dituntut untuk memikirkan berbagai macam hal, seperti bagaimana mengatur keuangan rumah tangga, merawat anak-anak dan suami, dan juga menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. “Dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga, perempuan sudah dihadapkan pada situasi untuk berpikir kompleks dan detail. Kemampuan ini bisa menjadi keunggulan perempuan,” ujar Yani.

Dengan modal kemampuan multitasking tersebut, Yani sangat berharap bahwa anak buahnya, terutama mereka yang perempuan dapat lebih percaya diri dalam menjalankan karirnya di perusahaan. Terlebih lagi, situasi masyarakat saat ini jauh lebih bisa menerima perempuan sebagai pemimpin dibanding 20 atau 30 tahun yang lalu. “Asalkan perempuan itu tangguh dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan pekerjaanya, saya yakin siapapun tak akan ragu mengangkat mereka sebagai pemimpin,” katanya.


Share   : 

Leave us your thought

(start with http://)