Blog

Semua Orang Bisa Berpikir Kreatif

Jika berbicara mengenai kekuatan dari berpikir kreatif, maka tak dapat dilepaskan dari sosok Steve Jobs. Di bawah komandonya, Apple seolah tak pernah berhenti menghasilkan inovasi-inovasi di bidang teknologi. Melihat kepiawaiannya, banyak yang beranggapan bahwa pikiran kreatif merupakan bakat yang dimiliki Steve Jobs sejak lahir. Tetapi benarkah bahwa pikiran kreatif dan inovatif merupakan bakat?

Melalui pelatihan Creative and Innovative Thinking yang diselenggarakan oleh M Learning Centre (MLC) pada 23 Maret 2016, Direktur Elganet, Rosa Sanjaya atau yang akrab dipanggil Jay menjelaskan bahwa berpikir kreatif bukan menjadi monopoli orang-orang tertentu saja. Ia mengutip pendapat John Clesse yang mengatakan bahwa kreativitas bukanlah bakat tetapi merupakan cara seseorang mengerjakan sesuatu. Jika kreativitas bukan bakat maka dapat disimpulkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk melatih dirinya untuk menjadi kreatif dan inovatif.

Untuk menjadi kreatif dan inovatif, Jay sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Tina Seelig, seorang profesor dari Stanford University yang menjelaskan bahwa ada enam faktor yang mempengaruhi seseorang dalam melahirkan inovasi. Keenam faktor tersebut terbagi menjadi faktor internal yang terdiri dari imajinasi, pengetahuan, dan tingkah laku dan faktor eksternal yang terdiri dari habitat, budaya, dan sumber yang ada (resources).

Menurut Jay keenam faktor ini harus terus dilatih agar seseorang dapat terus berpikir kreatif. Faktor imajinasi misalnya dapat dikembangkan dengan cara mengkombinasikan ide-ide yang sudah ada. Salah satu contoh nyata dalam hal penggabungan ide ini dapat dilihat dari munculnya martabak red velvet yang merupakan hasil dari kombinasi konsep martabak konvensional dengan kue red velvet.

Pengetahuan juga harus dikembangkan jika seseorang ingin mengasah kemampuannya dalam berpikir kreatif. Salah satu cara untuk memperluas cakrawala pengetahuan ialah dengan memperhatikan hal-hal yang ada di sekitar kita. “Jika kita berkenalan dengan orang, berusahalah untuk belajar hal yang baru dari orang tersebut,” ujarnya. Upaya mengembangkan pengetahuan ini tidak akan terjadi jika kita hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu. Untuk itu penting bagi seorang inovator untuk terus mengembangkan sikap untuk tidak pernah puas dan selalu memiliki keingintahuan yang tinggi terhadap segala suatu hal. “Untuk jadi kreatif, kita tidak bisa hanya diam,” ujarnya.

Selain dipengaruhi oleh faktor internal, kemampuan berpikir kreatif juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti sumber daya yang ada, budaya, dan juga lingkungan sekitar. Pentingnya faktor eksternal dalam merangsang kreativitas ini rasanya cukup disadari oleh beberapa perusahan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Perusahaan seperti Google misalnya mendesain ruangan kantornya dengan warna-warna cerah lengkap dengan fasilitas ruang bermain. Tujuannya tentu saja agar para pegawainya dapat terangsang untuk menghasilkan produk-produk yang inovatif.


Share   : 

Leave us your thought

(start with http://)