Blog

Mendidik Manusia Indonesia Melalui Kewirausahaan

entrepreneur2

Di tahun 1993, Yani Panigoro mengunjungi almamaternya Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan satu misi, memotivasi para mahasiswa untuk berwirausaha. Tak hanya cukup di Bandung, di tahun-tahun berikutnya, Direktur Medco Group ini terus menjelajahi berbagi institusi perguruan tinggi di Indonesia dengan harapan akan ada lebih banyak anak muda yang terjun menjadi pebisnis. Melalui wawancara singkat, ia menjelaskan kecintaanya terhadap upaya mendorong para wirausahawan muda.

Ibu sangat aktif dalam mendorong anak-anak muda dalam merintis usaha, mulai dari memberikan kuliah umum hingga memberikan pembiayaan dengan skema modal ventura. Apa yang melatarbelakangi hal tersebut?

Mungkin dari latar belakang keluarga. Saya melihat ayah dan ibu saya berbisnis dan ternyata pekerjaan itu bisa menghidupi keluarga. Saya melihat kondisi Indonesia sekarang di mana lapangan pekerjaan terbatas jadi saya meng-encourage anak-anak muda Indonesia ini supaya merintis usaha sendiri. Dengan begitu, maka mereka akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Kalau semua orang bekerja, kesejahteraan meningkat, tidak ada pengangguran, tidak ada kemiskinan.

 

Aktivitas apa saja yang sudah ibu lakukan untuk memotivasi lebih banyak orang berani menjadi pengusaha?

Selama ini saya lebih banyak memotivasi bisnis ke perguruan tinggi, baik yang ada di Jakarta dan Bandung, maupun di luar Jawa. Saya berharap mahasiswa lebih banyak terinspirasi atau minimal mereka miliki wawasan lain tentang bagaimana mereka harus mandiri kelak. Jadi apakah setelah lulus mereka memilih untuk menjadi pekerja kantoran atau menciptakan lapangan kerja, itu kembali kepada mereka.

 

Dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun terakhir, mulai muncul tren anak-anak muda yang kemudian lebih memilih untuk berwirausaha dibandingkan bekerja sebagai karyawan. Bagaimana pandangan ibu terhadap fenomena ini?

Itu sebenarnya yang harus dilakukan oleh anak muda Indonesia. Kalau saya perhatikan anak-anak muda yang berwirausaha tentunya adalah mereka yang sudah memiliki skill. Skill itu diperolah dari mana? Dari pendidikan tentunya. Memang ada beberapa di antara mereka yang memiliki bakat untuk berdagang. Tetapi bakat ditambah pendidikan yang cukup tentu akan berhasil. Jadi merupakan hal yang baik sekali jika anak-anak muda mendirikan kafe, bergerak di industri kreatif, apalagi jika orientasinya ekspor, itu tentu baik sekali dan tentunya harus lebih banyak.

 

Menurut ibu apa yang membedakan cara orang mendirikan usaha di zaman ibu muda dulu dengan anak-anak sekarang?

Kalau zaman saya dulu, jumlah penduduk Indonesia belum sebanyak sekarang. Saya remaja tahun 1970, penduduk Indonesia belum 250 juta. Mungkin masih setengahnya sehingga pada saat itu belum terasa sulitnya mendapatkan pekerjaan. Jadi ketika seseorang lulus dari perguruan tinggi, lowongan kerja terbuka dengan luas. Teman-teman saya pada waktu itu menjadi rebutan, baik untuk bekerja di PLN, PU, maupun Telkom. Karena lapangan pekerjaan belum sesulit sekarang, maka tren menjadi entreprenenur belum terlalu menonjol. Mereka yang menjadi pengusaha saat itu belajar secara otodidak dan memang merupakan orang-orang yang bercita-cita menjadi pengusaha. Kalau sekarang di saat lapangan kerja tidak terlalu banyak seperti 20-30 tahun yang lalu, anak-anak muda kemudian berpikir untuk menjadi wirausaha. Selain itu, saat ini banyak sekali sosialisasi mengenai entrepreneurship, seperti wirausaha muda mandiri dan program-program lain. Untuk masalah pendanaan untuk sektor usaha kecil juga jauh lebih banyak dibandingkan 20 sampai 30 tahun yang lalu. Zaman dahulu orang yang akan berbisnis harus meminjam ke bank atau mendapatkan sumber dana dari orang tua. Kalau sekarang ada banyak sumber pendanaan. Bahkan dari BUMN juga ada. Oleh karena itu, anak-anak yang usaha di industri kreatif itu tidak terlalu susah karena ada banyak sumber pendanaan dan modal yang diperlukan juga tidak terlalu besar.

 

Apakah berarti bisa disimpulkan bahwa tantangan orang berwirausaha zaman dulu jauh lebih besar dibandingkan saat ini?

Kurang lebih bisa dikatakan seperti itu. Dulu akses ke sumber dana tidak semudah sekarang. Dulu tidak ada modal ventura, tidak ada dana dari pemerintah atau BUMN. Belum lagi kursus-kursus sekarang kan banyak sekali. Belum lagi sistem pendidikan kalau saya lihat saat ini di sekolah-sekolah, kurikulum entrepreneurship itu sudah masuk.

 

Dengan tantangan yang tidak seberat dulu, apakah bisa dikatakan para wirasausahawan yang tumbuh saat ini lebih tidak tahan banting dibandingkan era ibu dahulu?

Hal itu mungkin saja. Tetapi, saya rasa mengenai tahan banting atau tidak itu lebih kepada persoalan karakter. Ketika saya berbicara di OJK, saya bertemu dengan Hendy Setiono pendiri Kebab Turki Baba Rafi. Dia sekolah di ITS dan ayahnya kerja di oil company. Seharusnya dia manja tetapi kenyataanya tidak. Ketika memulai usaha dia juga mencoba berbagai resep sampai akhirnya berhasil. Selain itu, faktor keluarga juga berpengaruh besar. Kalau pendidikan keluarga bagus, anak pasti juga bisa mandiri dan punya semangat untuk kerja keras.

 

Dari beberapa anak muda yang ibu bantu permodalan usahanya, ada yang berjalan dengan baik, tetapi ada juga yang hasilnya belum terlalu menggembirakan. Menurut ibu, apa yang membuat hasilnya bisa berbeda?

Dalam berbisnis, gagal itu sebenarnya merupakan hal yang biasa. Yang penting apakah dia punya niat untuk mulai lagi dan membuat perencanaan sampai berhasil atau tidak? Karena dalam bisnis, perencanaan itu harus baik. Jika dia sudah membuat perencanaan dengan baik dan masih gagal, maka dia harus termotivasi untuk membuat perencanaan dengan lebih baik lagi. Harus diingat bahwa faktor gagal itu ada banyak. Bisa jadi produknya tidak bagus atau kalau makanan, rasanya kurang enak. Kalau makanan rasanya enak, saya rasa lokasinya sejauh apapun akan tetap dicari oleh orang. Kemudian harus diperhatikan juga market-nya. Dan yang tidak kalah penting adalah sumber daya manusianya, apakah mereka kreatif atau tidak. Karena kreativitas itu juga menentukan keberlanjutan perusahaan. Menjadi entrepreneur itu perlu punya visi dan harus diimbangi pula dengan kemampuan networking yang baik. Ketika seseorang menjadi pengusaha, maka waktu yang ia curahkan dalam bekerja harus lebih banyak dibandingkan ketika menjadi pegawai.

 

Apa pesan ibu terhadap anak-anak muda yang ingin mulai merintis usaha?

Jangan pernah berhenti belajar, kerja keras, jujur dan jangan pernah bermain-main dengan janji. Komitmen dan kepercayaan orang kepada kita harus terus dijaga karena bisnis adalah mengenai trust. Ketika kita tidak bisa menjaga komitmen maka kita tidak akan sukses di bisnis. Selain itu yang tidak kalah pentingnya jika kita sudah mendapat rezeki maka kita harus ingat untuk memberi atau beramal sesuai dengan kapasitas kita.


Share   : 

Leave us your thought

(start with http://)