Blog

Limbah Sapi dan Pengembangan Energi Alternatif

Potensi energi dari limbah kotoran sapi_lBeberapa tahun terakhir, upaya untuk menggalakkan penggunaan energi terbarukan mulai dilakukan di beberapa negara Asia. Merosotnya harga minyak dunia serta munculnya kesadaran untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan menjadi beberapa faktor yang mendorong negara-negera seperti Cina dan India untuk mulai mencari sumber energi alternatif yang berasal dari angin, panas bumi, sinar matahari, dan juga sumber-sumber biologis, seperti biomassa dan biogas.

Indonesia juga sedikit demi sedikit beralih menggunakan industri energi alternatif ini. Salah satu sumber energi alternatif yang dikembangkan ialah biogas yang berasal dari kotoran sapi. Melalui suatu proses fermentasi, kotoran sapi yang yang diendapkan selama beberapa waktu akan mengeluarkan gas yang mengandung biomethan (CH4). Biomethan ini memiliki sifat mudah dibakar atau flammable sehingga mampu menjadi sumber energi.

Staff Business Development Medco Holding, Ivaldi Lukman menjelaskan bahwa di Indonesia pemanfaatan kotoran sapi untuk dijadikan sumber energi alternatif sebenarnya sudah berlangsung lama. Hanya saja, pemanfaatnyannya masih dilakukan dalam skala kecil atau umumnya hanya terbatas untuk dipakai sendiri. “Saat ini rata-rata di Indonesia pemanfaatannya masih untuk skala rumah tangga,” ujar peraih gelar Master of Infrastructure Planning dari Stuttgart University, Jerman ini. Meski demikian, berdasarkan tesisnya yang berjudul Identification of Biogas Potential of Cow Manure from Dairy Industry, ia melihat bahwa pengelolaan kotoran hewan untuk dimanfaatkan sebagai energi alternatif harus segera dilakukan. Hal ini dikarenakan pengembangan biogas akan memberikan berbagai manfaat baik ditinjau dari aspek lingkungan, sosial maupun ekonomi.

Dilihat dari aspek lingkungan dan sosial, kotoran sapi yang hanya dibuang tanpa melalui pengelolaan secara khusus dapat mengakibatkan polusi udara. Hal ini dikarenakan Methane yang terkandung dalam kotoran hewan memiliki kandungan bahaya 58 kali lebih besar dibandingkan dengan karbondioksida sehingga akan melubangi atmosfer lebih cepat dibandingkan gas karbondisoksida. Tak hanya itu, ketika kotoran hewan hanya diendapkan ke tanah, maka dalam jangka panjang dapat mempengaruhi tingkat kesuburan tanah. Limbah Kotoran hewan yang tidak di kelola dengan baik juga seringkali membuat masyarakat sekitar merasa pusing dan mual karena harus menghirup aroma yang tidak sedap setiap harinya. Pemanfaatan kotoran sapi menjadi energi alternatif tentunya diharapkan dapat meminimalisir kondisi tersebut.

Sementara itu, dari segi ekonomi, ketika sebuah industri, contohnya perusahaan susu melakukan pengelolaan terhadap limbah kotoran sapi secara mandiri, maka perusahaan tersebut ini bisa mendapatkan pasokan listrik dari hasil limbahnya sendiri. Bahkan jika hasil listrik dari biogas ini melebihi kebutuhan operasional perusahaan tersebut, maka kelebihan atau excess power yang ada dapat dijual ke Perusahaan Listrik Negara.

Di beberapa negara-negara maju, pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi sumber energi alternatif merupakan hal yang umum diterapkan. Di Jerman, misalnya, hampir semua industri akan memanfaatkan limbah yang dihasilkannya untuk dimanfaatkan menjadi energi. Jika di Indonesia sumber energi alternatif yang coba dikembangkan masih dalam taraf biogas, maka di Jerman, limbah dari kotoran hewan akan dikelola untuk mendapatkan advance biomethane. “Di Jerman biogas ini masih akan di treatment lagi menjadi advance biomethane sehingga nilainya sudah bisa di compare dengan gas alam,” ujarnya dalam kegiatan knowledge sharing di Medco Ampera, Senin 15 Februari 2016. Sementara itu, di Amerika Serikat, peternakan yang memiliki populasi sapi melebihi jumlah tertentu memiliki kewajiban untuk mengkonversi limbahnya menjadi sumber energi alternatif.

Menurut Ivaldi, pesatnya perkembangan energi terbarukan di negera-negara tersebut tak lepas dari dukungan serius dari pemerintah. Bantuan tersebut dapat berupa penetapan harga beli yang tinggi untuk listrik yang dijual dari hasil energi alternatif, pembebasan pajak, pemberian grant dari pemerintah untuk industri yang mau mengembangkan energi alternatif, serta kemudahan dari institusi perbankan untuk memberikan pinjaman lunak kepada industri yang mengembangkan energi alternatif. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia di mana proyek energi alternatif seringkali dianggap kurang menguntungkan oleh bank sehingga sulit mendapatkan pinjaman.

Jika Indonesia tidak ingin semakin ketinggalan dalam bidang energi alternatif ini, maka Ivaldi berpendapat bahwa pemerintah perlu melakukan berbagai langkah strategis terkait pengolahan limbah menjadi energi terbarukan. Langkah-langkah tersebut di antaranya melakukan sosialisasi secara massif kepada masyarakat mengenai urgensi pengembangan energi terbarukan, memberikan pendampingan dan bantuan teknis tentang cara pengelolaan limbah menjadi sumber energi kepada para peternak sapi maupun industri susu, dan juga membuat kebijakan yang mewajibkan berbagai industri untuk mengelola limbahnya menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan.

Adapun Medco, sebagai salah satu perusahaan yang selama ini manjadikan minyak sebagai lini bisnis utama, perlahan tapi pasti mulai unjuk gigi dalam pengembangan industri terbarukan. Dimulai di tahun 2013, Medco melalui PT Medco Biodaya Nusantara mulai membantu PTPN X dalam pengembangan energi terbarukan berbasis limbah bioetanol dari tetes tebu. Kemudian di tahun 2016, Medco bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) merintis proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan MOU yang dilakukan di ajang Bali Clean Energy Forum 2016. Tak hanya itu, salah satu unit bisnis Medco di bidang fabrikasi, Multifab, juga terlibat dalam proses pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi energi lisrik yang nantinya akan digunakan untuk kebutuhan operasional pabrik susu yang berlokasi di Jawa Timur. Dengan berbagai proyek ini, Ivaldi optimis bahwa ke depannya Medco dapat menjadi salah satu pemain penting dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.


Share   : 

Leave us your thought

(start with http://)