Blog

Berjuang untuk Menyelamatkan Generasi Muda

Blog Arifin PanigoroDi suatu Jumat sore di tahun 2013, Arifin Panigoro bersama rekan-rekannya dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau mendatangi Gedung KPK. Tujuannya hanya satu, melaporkan dugaan indikasi korupsi dalam pembahasan RUU tembakau. Aksinya tersebut mendapat banyak sorotan. Bahkan tak jarang sekelompok orang memusuhinya karena keaktifannya di Komisi Nasional Pengendalian Tembakau. Tetapi, ia tak pernah menghentikan langkahnya. Ia yakin semua perjuangan ini bukanlah sesuatu yang sia-sia. Dalam rangka memperingati hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei, pendiri Medco Group ini berbagai pandangannya tentang upaya pengendalian tembakau di Indonesia.

 

Arifin dan Motivasi Keterlibatannya dalam Pengendalian Tembakau

Di Indonesia ada banyak organisasi yang peduli terhadap upaya pengendalian tembakau, seperti Yayasan Jantung, Yayasan Kanker, dan juga Ikatan Dokter. Mereka semua peduli bahwa merokok itu tidak sehat dan mereka berusaha mendorong atau mempengaruhi para pengambil keputusan, baik itu ke pemerintah maupun ke DPR agar rokok itu terkendali. Di dunia ini sebenarnya sudah ada kesepakatan yang namanya Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Hampir seluruh dunia sudah menandatangani dan terikat dan di situ diatur jelas tentang adanya batasan iklan, batasan produksi, melindungi tempat-tempat yang bebas rokok, dan sebagainya. Dengan mengikuti konvensi tersebut, Indonesia sudah cukup maju. Akan tetapi, sering kali kita tidak berdaya menghadapi industri rokok yang sangat besar. Baik pemerintah maupun sistem politik kita tidak sanggup menghadapi kekuatan industri rokok yang kuat sekali. Jujur saja, saya sering tidak tahan melihat hal-hal seperti itu dan akhirnya saya memutuskan bahwa saya harus turun tangan untuk ikut membantu.

 

Arifin dan Sepak Terjangnya dalam Pembatasan Rokok

Saya melihat bahwa seberat-beratnya larangan, rokok akan tetap ada. Terlebih lagi di Indonesia, jumlah laki-laki yang addicted terhadap rokok jumlahnya di atas 70 juta orang. Akan tetapi yang perlu ditekankan adalah perlunya pembatasan. Jadi kalau mau mengambil perbandingannya, di rokok itu ada cukai. Barang yang kena cukai itu adalah barang-barang yang memang harus dibatasi, seperti rokok dan minuman keras. Itu sebabnya di undang-undang kesehatan itu jelas disebut bahwa rokok adalah zat adiktif. Tetapi rokok itu begitu besar bisnisnya sehingga orang menjadi berat untuk menahannya. Padahal sebenarnya bukan berarti industri rokok ini harus hilang, tetapi harus dibatasi dan yang lebih penting diingat adalah perlunya pemahaman untuk bisa menghargai orang-orang yang tidak merokok.

Di Indonesia, upaya untuk menghargai orang yang tidak merokok ini bisa terlihat dengan adanya aturan-aturan merokok di tempat umum. Di Jakarta misalnya, hampir semua fasilitas umum merupakan kawasan dilarang merokok dan iklan rokok juga dibatasi. Kemudian di Bandung, saya melihat walikota yang sekarang (Ridwan Kamil) cukup peduli dengan masalah ini. Kita dan komnas pengendalian tembakau sudah beberapa kali bertemu dan kita memberi penghargaan ke beliau karena menetapkan adanya hari-hari tertentu yang bebas rokok.

Kemudian pada waktu masih zaman Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), saya dan komnas aktif melakukan pendekatan terus menerus untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap bahaya rokok. Slah satu hasilnya adalah kebijakan bahwa 40 persen dari bungkus rokok harus menampilkan graphic warning yang berupa gambar-gambar seram. Saya mendengar bahwa kebijakan tersebut cukup berpengaruh.

Selain dari sisi kesehatan , kita juga sedang mengupayakan untuk melakukan pendekatan dari sisi income atau dengan menaikkan haraga rokok. Sekarang pun harga rokok sudah naik, walaupun naiknya mungkin cuma sekitar 5 persen tetapi kita akan tingkatkan lebih cepat misalnya 20 persen setahun. Dan sudah ada survei-nya bahwa kebijakan ini akan menurunkan konsumsi walau sedikit. Saya yakin bahwa dengan harga yang tinggi, maka orang akan memilih untuk mengurangi konsumsi rokoknya atau mungkin berhenti merokok sama sekali.

 

Terus Berjuang untuk Menyelamatkan Generasi Muda

Selama ini iklan rokok berusaha merangsang orang untuk merokok. Maka juga harus disosialisasikan secara gencar bahwa dari merokok apa yang didapatkan oleh paru-paru kita dalam seminggu, kemudian dalam setahun bagaimana dampaknya. Jadi kalau kita check-up kesehatan yang benar, akan ditanya merokok atau tidak. Kalau tidak, maka akan ditanyakan lagi pernah merokok atau tidak? Kalau pernah kemudian akan ditanyakan berapa lama merokoknya dan kapan berhentinya. Karena meskipun sudah berhenti dan suatu saat intens sekali ngisapnya ya sudah kalah duluan paru-paru kita. Jadi kalau menurut saya buat anak-anak yang belum merokok itu harus diberi tahu penjelasan bahwa merokok itu tidak sehat.


Share   : 

Leave us your thought

(start with http://)